Categories
Umum

Sinyal Pasar

PUPUS sudah harapan Indonesia untuk naik kelas. Rabu pekan lalu, S&P Global Rating memastikan peringkat Indonesia tetap tidak layak investasi. Dalam bahasa S&P, peringkat Indonesia adalah BB+, perlu naik satu tingkat lagi untuk keluar dari kategori ”sampah”. Jangan tersinggung, di pasar finansial memang orang menyebut surat utang tak layak investasi dengan julukan ”sampah” alias junk.

Harapan naik kelas muncul dua pekan lalu ketika rombongan S&P datang ke Jakarta untuk melakukan evaluasi dan sempat mampir bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Mesin publikasi pemerintah pun langsung membanjiri media dengan sinyal positif. Para pejabat ramai-ramai menegaskan bahwa Indonesia pantas mendapatkan peringkat layak investasi. Sekadar catatan, saat ini ada tiga lembaga pemeringkat yang menjadi rujukan pasar.

Dua di antaranya, Moody’s Investors Service dan Fitch Ratings, masing-masing sudah sejak empat dan lima tahun lalu menilai surat utang Indonesia layak investasi. Tinggal S&P yang masih menyematkan peringkat ”sampah”. Maka banyak yang berharap S&P segera mengikuti Fitch dan Moody’s. Ternyata S&P bergeming pada peringkat junk untuk Indonesia. Alasan resmi S&P, defisit anggaran negara yang bakal membesar tahun ini merupakan ancaman. S&P berjanji akan mengevaluasi lagi peringkat tersebut, tahun ini ataupun tahun depan, jika ada perubahan signifikan.

Tapi mungkin juga kehati-hatian S&P berlatar belakang pengalaman pahit. Pada 1997, S&P sempat menaikkan peringkat Indonesia menjadi layak investasi. Tak lama kemudian ekonomi Indonesia malah ambruk terseret krisis moneter. Sebetulnya investor memang tidak usah mempercayai lembaga pemeringkat secara absolut. Meledaknya krisis global 2008, misalnya, juga tak lepas dari gegabahnya lembaga pemeringkat semacam S&P, Fitch, atau Moody’s dan sejenisnya.

Mereka mengobral peringkat tinggi untuk surat utang terbitan Amerika Serikat yang berbasis kredit perumahan berkualitas rendah. Jutaan orang tertipu karenanya. Tapi, apa boleh buat, pasar keuangan belum punya sistem lain sebagai rujukan. Suka tak suka, investor dan pemerintah harus berpegang pada keputusan lembaga pemeringkat. Apalagi dampaknya besar seandainya S&P menaikkan peringkat Indonesia menjadi layak investasi. Kurs rupiah sangat berpotensi menguat. Yang tak kalah penting, bunga surat utang pemerintah bisa turun signifikan.

Secara riil, penghematan karena bunga utang yang lebih rendah dapat mencapai skala triliun rupiah per tahun. Sebagai perbandingan, Filipina, misalnya, saat ini cukup membayar imbal hasil (yield) 4,47 persen untuk obligasi negara berjangka 10 tahun. Salah satu sebabnya, Filipina berperingkat layak investasi BBB dari S&P, cuma satu setrip di atas peringkat Indonesia. Sedangkan yield obligasi pemerintah Indonesia kini 7,86 persen, hampir dua kali lipat Filipina.

Bukan cuma negara, perusahaan swasta dan perbankan pun akan menikmati akses dana internasional dengan lebih mudah dan murah jika peringkat Indonesia sepenuhnya layak investasi. Belum lagi banjir dana investasi yang akan masuk melalui pasar saham. Semua itu belum akan terwujud sampai pemerintah mampu meyakinkan S&P untuk menaikkan peringkat. Jadi lupakan dulu lara karena Indonesia tinggal kelas. Hingga pertengahan Juni nanti, investor lebih baik cermat menelaah kemungkinan The Federal Reserve akan menaikkan bunga atau tidak. Pasar kembali terombang-ambing ketidakpastian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *