Categories
Umum

Tips Membuat Laporan SPT Tahunan Dengan Cepat dan Tepat

Tips Membuat Laporan SPT Tahunan Dengan Cepat dan Tepat

Sebagai warga negara yang baik, kita selalu berusaha untuk taat membayar pajak dan melaporkan SPT Tahunan Pajak baik itu pajak orang pribadi maupun pajak badan. Namun, istilah tertentu yang ada pada tata cara pembayaran terkadang membuat Anda pusing, karena tidak memahaminya. Alhasil, Anda jadi malas melaporkan SPT Tahunan dan memilih untuk melakukannya di hari terakhir.

Sumber : Gotax

Apa pun pekerjaan yang kita geluti, sebagai wajib pajak yang memiliki pendapatan tinggi tiap bulannya, kita wajib membayar pajak. Berikut ini tips menarik membuat SPT Tahunan dengan cepat dan mudah:

Ketika Menjadi Seorang Wajib Pajak

Sebagai warga negara yang sudah bekerja dan menghasilkan pendapatan setara atau lebih dari Rp. 4.5 juta setiap bulannya diwajibkan untuk membayar dan melaporkan SPT Tahunan. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mendaftarkan diri ke KPP untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Dalam istilah perpajakan, seseorang biasa menyingkat Wajib Pajak menjadi WP. Singkatan tersebut juga dapat digunakan untuk CV, PT, perusahaan dan pihak pembayar pajak lainnya.

Untuk memperoleh NPWP secara pribadi, Anda hanya perlu membawa KTP aktif saja, atau paspor dan pengenal lainnya. Sedangkan untuk WP badan, dokumen yang perlu dipersiapkan diantaranya adalah fotokopi paspor dan surat keterangan tempat tinggal khusus untuk WNA, fotokopi KTP untuk WNI dan surat keterantang tempat usaha atau pekerjaan bebas yang diberikan instansi berwenang.

Mudah dan Cepat Dengan Online

Untuk mempercepat proses pendaftaran dan pelaporan pajak, ada baiknya jika Anda mengunjungi www.pajak.go.id untuk registrasi onlinenya. Cukup ikuti petunjuk pendaftaran yang tertera di halaman website dengan mengisi data yang baik dan benar. Jika masih bingung dengan pengisian formulir SPT Tahunannya, Anda bisa meminta bantuan via telepon dengan menghubungi kring pajak di 1 500 200.

Pajak Untuk Pekerja Bebas

Barang siapa termasuk pekerja bebas yang memiliki pendapatan lebih dan setara Rp. 4.5 juta diwajibkan untuk membayar pajak. Walaupun pekerja bebas dipandang sebelah mata, namun dalam kasusnya cukup banyak pekerja bebas yang mampu menghasilkan pendapatan lebih tinggi daripada mereka yang bekerja seperti biasa.

Categories
Rumah

Menata Rumah Minimalis Hasil Optimal


M enata rumah berukuran kecil bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum kita mengisi rumah dengan aneka perabot rumah, terutama furnitur. Segala sesuatunya harus memiliki fungsi dan tidak memakan banyak tempat. Terlebih, sebaiknya furnitur tersebut juga memiliki fungsi yang lebih dari satu. Hunian yang berukuran kecil lazimnya memiliki kamar tidur yang berukuran terbatas. Pada area seperti inilah furnitur yang kompak dapat memberikan nilai lebih pada ruangan.

Misalnya tempat tidur. Fungsinya kini tidak hanya sebagai sarana untuk beristirahat, namun juga bisa menjadi tempat penyimpanan. Seperti halnya pada tempat tidur multifungsi berikut ini. Yang mendasari pembuatan furnitur ini adalah permintaan pemilik hunian, Vicky Claudia, yang menginginkan tempat tidur yang tepat untuk ruangan yang nantinya akan ditempati bersama kakaknya. Tantangan terbesarnya adalah luas kamar yang hanya berukuran 3,2 m x 3,8 m. Karena itu, Nadia membuat tempat tidur bertingkat, sebagai jawaban atas terbatasnya luas kamar tersebut. Tidak hanya itu, untuk mencegah penyimpanan pada kamar yang akan memakan banyak space, tempat tidur tersebut dibuat sekompak mungkin agar juga dapat berfungsi sebagai area penyimpanan. Dimensi furnitur tersebut juga disesuaikan dengan luas kamar agar tetap proporsional. Konsep dasar dari furnitur tersebut adalah “to maximize the compact space.” Jadi, setiap sudut furniturnya didesain untuk dapat menyimpan barang secara tersembunyi tanpa mengganggu kenyamanan pemakai. Namun tetap memiliki fungsi utamanya, yakni sebagai tempat untuk beristirahat.

Nadia Pramudita, desainer, memang menginginkan agar furnitur ini nantinya dapat menjadi solusi untuk hunian dengan ukuran terbatas. Untuk menjamin kenyamanan penggunanya, space masing-masing tempat tidur juga dibuat sama rata. Yang membuat furnitur ini berbeda adalah detail-detail kecil pada beberapa bagiannya. Misalnya, pada laci di bawah tangga maupun di bawah tempat tidur. Semua bagian furnitur tersebut memiliki fungsi untuk menunjang kebutuhan di hunian kecil. Karena furnitur jenis ini sangat spesifik untuk masing-masing orang, maka proses problem solving-nya harus dimulai dari awal. Setelah fungsinya sudah ditetapkan, barulah Nadia masuk ke styling yang dicocokkan dengan keinginan klien.

Roda Tersembunyi

Furnitur ini terdiri dari bagian tempat tidur dengan kompartemen di bawahnya untuk menyimpan selimut, bantal, extra bed sheets, dan lain sebagainya. Untuk mempermudah penggunaan, pada bagian bawah dari kompartemen ini dilengkapi dengan roda tersembunyi agar mudah untuk ditarik keluar maupun didorong masuk. Bagian lainnya adalah tangga untuk naik ke tempat tidur atas dengan kompartemen di setiap anak tangganya, serta rak untuk menyimpan aneka pernak-pernik di sebelahnya.

Struktur Harus Kuat

Material pada furnitur ini menggunakan kayu, sehingga secara struktur menjadikannya kuat. Konstruksi desainnya juga dipikirkan supaya konstruksinya tetap kuat tanpa harus mengganggu tampilan furnitur. Untuk bagian tiang-tiangnya, digunakan kayu solid untuk memastikan furnitur tersebut lebih kuat. Sedangkan untuk bagian tangga, fi nishing duco diterapkan dengan tujuan membuat bagian tangga tersebut mudah dibersihkan

Tangga untuk Tempat Duduk Ekstra

Tangga pada furnitur tempat tidur tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menuju ke tempat tidur atas. Ada fungsi lain yang juga dapat dimanfaatkan oleh pemilik kamar tersebut. Anak tangga dibuat lebar, karena selain lebih nyaman untuk naik ke tempat tidur atas, lebarnya tangga juga berkorelasi dengan lebarnya laci. Dengan begitu, kompartemen tersembunyinya juga mendapat space yang lebih besar untuk menyimpan barang-barang. Anak tangganya yang lebar juga dapat digunakan untuk duduk sambil membaca buku, maupun mencari barang yang mereka simpan.

Siapkan Genset

Pastikan rumah anda terdapat genset. Genset berfungsi sebagai sumber listrik cadangan bila tiba tiba listrik dari PLN padam. Pastikan anda membeli genset dari supplier jual genset jakarta terpercaya dan bergaransi resmi

Categories
Umum

MAJULAH PERGERAKAN WANITA

SUDAH po ngan membuat edisi khusus. Per ingatan hari lahir Raden Ajeng , hari-hari besar diperingati de menjadi tradisi di Tem– – Kartini sering menampilkan perempuanperempuan perkasa dan melampaui zaman. Pada peringatan Hari Kartini 1978, Tempo membuat tulisan panjang dengan judul ”Wanita: Masih Bisa Bergerak?”. Saat itu Presiden Soeharto baru melantik Lasiyah Soetanto sebagai Menteri Muda Urusan Peranan Wanita. Soeharto tidak menggunakan kata ”perempuan”. Tersirat juga bahwa urusan wanita dianggap selesai dan yang masih diperjuangkan adalah ”peranan wanita”. Tentunya dalam pembangunan sesuai dengan jargon rezim Soeharto. Meski demikian, di antara tokoh pergerakan wanita pada 1970-an, masih terdapat penilaian bahwa perjuangan emansipasi sebenarnya belum usai. Ada, misalnya, pikiran tentang hukum waris nasional yang bisa menyamakan kedudukan wanita dan pria dalam pembagian.

Ada pula kenyataan diskriminasi kedudukan pria dan wanita sehubungan dengan hukum adat. Lalu Perikatan Perkumpulan Isteri Indonesia (PPII) membicarakan untuk pertama kali masalah poligami dalam kongresnya. Belum lagi proses disahkannya Rencana Undang-Undang Perkawinan 1974. Selain itu, ada dugaan bahwa peran wanita menurun. Di desa-desa, dengan adanya huler dan pemakaian parang untuk menuai padi benih unggul, bukan lagi aniani, menyebabkan kaum wanita yang dulu menumbuk padi dan aktif dalam panen kini kekurangan tugas. Di kota-kota, bersama surutnya peran organisasi kemasyarakatan, kehadiran kaum wanita sebagai faktor independen lebih digantikan oleh kaum wanita sebagai istri. Di sini orang kemudian teringat berbagai organisasi wanita yang tumbuh belakangan ini, yang terutama berciri departemen atau angkatan. Tulisan Tempo memaparkan sejarah perjuangan wanita dan pertumbuhan organisasi wanita di Tanah Air, sejak di Aceh tahun 1614 hingga 1970-an. Dalam kongres di Sala pada 1946 berhasil dibentuk federasi bernama Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Anggotanya dari Persatuan Wanita RI (Perwari), ‘Aisyiah, PPII, Muslimat NU, Persatuan Wanita Kristen Indonesia, Wanita Katolik, Persit, Bayangkari, Pertiwi, Jalasenastri, Dian Ekawati, Wanita Marhaen, dan sebagainya. Untuk membela wanita dalam rumah tangga, Perwari membentuk Biro Perkawinan sekaligus membela para wanita yang dicerai secara sewenang-wenang. Sayang, ketika Perwari gigih berjuang, pada 1954 Bung Karno melangsungkan pernikahannya dengan Nyonya Hartini. Maka Perwari melancarkan protes bertubi-tubi, meminta agar Nyonya Hartini diceraikan. Akibatnya: Perwari digencet. Lebih-lebih setelah Gerwani (yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia) mendapat angin dalam kehidupan organisasi wanita ataupun politik. Pada 1959-1965, banyak usaha membelokkan arah Kowani yang independen ke kiri— terutama atas usaha Gerwani. Ini lebih terlihat tatkala Nyonya Hurustiati Subandrio memegang tampuk pemimpin. Selama periode itu pula Kowani praktis lumpuh. Kegiatannya tak lebih dari melahirkan berbagai pernyataan politik. Pada awal Orde Baru, baik sendiri-sendiri maupun membawa bendera Kowani, kaum wanita bergerak di bidang sosial, seperti Keluarga Berencana, pendidikan, kependudukan, serta kesejahteraan ibu dan anak, mendirikan rumah perawatan wanita jompo, juga menggelar berbagai seminar dan lokakarya. Agaknya sejarah berulang.

Hampir serupa dengan keadaan menjelang Pemilihan Umum 1955 (yang melahirkan organisasi wanita sebagai pengumpul massa), menghadapi Pemilu 1971 dan 1977, berbagai organisasi wanita muncul. Organisasi di departemen itu berfederasi ke dalam Dharma Wanita, yang bukan anggota Kowani. Sedangkan yang ada kaitannya dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berinduk pada Dharma Pertiwi (anggota Kowani) dan Ikatan Kesejahteraan Keluarga Hankam—bukan anggota Kowani. Istri menteri atau pejabat menjadi ketuanya. Tidak penting apakah sang nyonya memang mampu atau tidak. Kalau sudah demikian, apakah pergerakan (bukan perkumpulan) wanita pada 1970-an sudah maju?